Selasa, 28 Juli 2015

Choices of Life

I've had a glass of tarik tea and now I find it hard to fall asleep so I decide to start writing on this blog (again). I am not going to elaborate serious matters like the last (3 years, yeah) posts, but I just want to outpour everything fulfilled my mind now.
Along with time, the more mature we are, everything faced are more complicated. There are many choices of life but they are not easy to be chosen. It has to be very careful to determine what we want and need. It is not like choosing between a candy and a bar of chocolate when still being a child anymore because what we take now will give a great impact to the future life and can not be repeated, either good or bad, happy or disappointing, it depends to our consideration now.
Some people advised to let the life flow and just focus to the actions nowadays but I don't really agree with that. I don't know. May be because I am an organized (and a bit silly :p peace!) girl, I think that the future has to be planned from now on. We have to plan our future education, future job and surely, our future partner of life (hehehe :p swag!).
As a Moeslem, I believe that humans plan but Allah determines so we have to always tawakkal to Allah. But we are also obliged to make efforts for the life. The problem now is, how to make sure that what we we are going to choose is right for our future. Then, how to unify (ngg.. or combine?) what we want and the desires of influenced people in our life such as the parents and the family if they are not in step.
Frankly speaking, I don't want to let the-people-whom-I-really-love down if what I want is not what they expect. But, I am really afraid to compromise with others if it is about my future life because I think my life is mine, I who will undergo it and I have rights to organise it,
At the end, I will remain to appreciate what the others advised and desired, moreover if it is from the parents. But still, I will firstly follow my passion, and my heart, to choose the choices of my life. I am sure that Allah always guide me to the best way in my destiny whom He has been written. At least, either it will be good or bad, I've made my own plan, choosen my path, so I will not blame anyone.
Am I right? Is there any other opinions? Is there anyone who has the same thought like me now?

Minggu, 15 Januari 2012

INTERVIEW ABOUT READING HABIT WITH PROF. JAWAHIR TANTOWI SH. Ph. D.


           A good habit actually is a good practice. Good reading can not be done except someone do reading and also writing. In Professor Jawahir’s opinion, not all people who are able to be good in reading are also good in writing. In his experience,  people who like to be success in his study depending on how this people concept with various issue in the life. For example when he had scholar in law, he must read many legal literatures and he would like to know more about other legal materials.
To support the people to have good reading habit, the people must like spending money to buy book. Buying a book actually is a one motivation for one person to have a good reading habit because every book is not same and have different lesson in different book. Buying book makes positive support for reading habit. If student does not like to buy books, it means the student has bad reading habit. To have good reading habit we must have strong comitment. Without buying book, strong comitment, and upgrading the literature, those mean someone stop to develop his understanding of knowledge.
When Professor Jawahir was a lecture at UII in 1999, many student at UII did not like to read book  and many people more like to find and read materials on internet. Indicator of Tragedi Nol Buku is the student does not like to reading and buying the book. To solve it, we must attract the people to read books and also buy books.
Campus as a central of academic atmosphere is one major indicator of academic development. Library is the way to change reading habit. Faculty should  give facility to student for preparing many literatures and many books in the library. The library must give current information to attract the students to came to the library. The last, student must buy comprehensive text books.

        By: Agung Dwi Pambudi, Lutfi Hibatul Haqi and Risky Edy Nawawi

Korupsi dan Masa Depan Indonesia



Indonesia cukup konsisten dalam urusan korupsi. Hasil survei Transparency International tentang indeks persepsi korupsi (IPK) 2011 menyebutkan republik ini berada di peringkat ke-100 dari 183 negara, dengan skor 3,0. Hanya naik 0,2 poin dari skor dua tahun berturut-turut. Survei itu menggunakan rentang indeks 0 (dipersepsikan sangat korup) hingga 10 (dipersepsikan sangat bersih dari korupsi).
Korupsi mulai membahayakan masa depan bangsa ini. Perilaku korup yang mewarnai kehidupan bernegara sekarang terjadi karena pergeseran nilai-nilai luhur, padahal nilai-nilai luhur tersebut merupakan kepribadian dari bangsa Indonesia. Moral, etika, dan keadilan sebagai jiwa hukum pun sudah menghilang sejak pembentukan sampai penegakan hukum dan telah dipisahkan dari implementasi hukum.
Sejumlah kasus calo anggaran atau jual-beli legislasi telah terungkap di persidangan, namun tidak berlanjut pada penindakan anggota DPR. Perkara Wisma Atlet yang memopulerkan nama mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, dan anggaran transmigrasi yang disinyalir ada aliran dana kepemimpinan Badan Anggaran juga menjadi contoh tindak korupsi yang tidak kalah penting dari kasus Century yang dinilai merugikan negara Rp 6,7 trilyun. Belum lagi kasus suap cek pelawat dalam pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Miranda S. Goeltom.. Ada juga kasus korupsi dan mafia pajak yang terkait dengan Gayus Tambunan.
Tiga pilar demokrasi pada level suprastruktur, yakni legislatif, eksekutif, dan yudikatif, pun terkontaminasi korupsi. Pilar legislatif sangat korup, berisi orang-orang tak kredibel, dan berurusan dengan penegak hukum. Pilar eksekutif, dari pusat sampai daerah, juga diselimuti oleh KKN dan birokrasi yang berbelit-belit. Pilar yudikatif pun begitu. Selain dihukum karena pelanggaran kode etik, banyak hakim yang dikirim ke pengadilan karena korupsi. Banyak jaksa yang tertangkap tangan menerima suap dan polisi dinilai tidak profesional dan tidak independen dalam menjalankan tugasnya. Untunglah, pers sebagai pilar keempat demokrasi masih cukup sehat. Walau kebebasan pers saat ini kebablasan dan dinilai suka mendramatisasi, namun pers kita masih independen dan mampu mengajak masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Terkontaminasinya tiga pilar demokrasi itu menyebabkan masyarakat seakan kehilangan asa untuk keluar dari kepungan korupsi yang menggurita. Namun hal ini tak boleh diartikan bahwa korupsi tidak bisa lagi diberantas. Kita bisa menjadi bangsa yang apatis dan menyerah pada keadaan sehingga tidak bergairah untuk melawan korupsi.
Saat ini rasa peduli terhadap isu-isu korupsi dan isu-isu kemaslahatan rakyat, seperti berbagai kejahatan, kerusuhan, dan bencana, telah melemah. Sekarang ini, masyarakat tidak lagi kaget kalau mendengar ada korupsi ratusan juta atau milyaran rupiah, sebab yang selalu didengar setiap hari adalah korupsi puluhan atau ratusan milyar bahkan trilyunan rupiah. Korupsi ratusan juta atau milyaran rupiah tersebut sudah dianggap biasa karena terjadi terus menerus. Sekarang ini, masyarakat hanya tersentak sebentar jika mendengar ada kecelakaan transportasi umum, kerusuhan, atau ambruknya jembatan, karena kejadian-kejadian tersebut memang selalu dan biasa terjadi. Semua itu merupakan sinyal, tanda bangsa ini sedang meluncur menuju kehancuran. Hal ini lalu memunculkan pertanyaan: Untuk apa kita bernegara? Apakah pemerintah masih ada?
Ketidakpercayaan rakyat pada institusi negara, penyerangan pengadilan dan pemblokiran jalan juga merupakan hal yang biasa terjadi saat ini. Bentuk-bentuk anarkisme tersebut kerap terjadi sebagai bentuk kekecewaan dan frustasi masyarakat atas masalah-masalah di negara ini yang didampingi oleh ketiadaan solusi. Keadaan seperti ini sangat mengkhawatirkan dan jika tidak segera diatasi akan menghancurkan keutuhan bangsa dan negara kita.
 Tampaknya, bangsa ini sulit menyembuhkan penyakit-penyakit yang merajelala tersebut. Padahal, penyakit dan cara penyembuhannya sebenarnya sudah diketahui. Semua pakar, profesor, doktor, pejuang LSM sudah berbicara dan menunjukkan problem lengkap dengan solusinya. Ironisnya, banyak pejuang-pejuang anti korupsi tersebut yang kemudian ikut masuk penjara karena korupsi setelah mendapatkan posisi.
Pada saat ini, kita memerlukan kepemimpinan yang kuat, bukan dalam arti otoriter, melainkan kepemimpinan yang berani dan berintegritas. Kepemimpinan yang tidak terkontaminasi korupsi dan tidak mudah dipengaruhi oleh kepentingan politik tertentu. Perlunya pembenahan proses perizinan usaha, pajak, dan bea cukai yang terkait dengan birokrasi pemerintahan. Perbaikan menyeluruh pada kinerja institusi penegak hukum, seperti kepolisian, kejaksaan, dan lembaga pengadilan. Serta melakukan penegakan hukum yang keras terhadap politisi, mafia hukum, dan pejabat publik tingkat tinggi yang terlibat korupsi.
Kepemimpinan yang kita butuhkan adalah kepemimpinan yang bersih dan berani. Keberanian tanpa kebersihan dalam kepemimpinan sangatlah berbahaya, tetapi kebersihan tanpa keberanian dalam memimpin juga tidak akan efektif. Korupsi merupakan extraordinary crime, oleh karena itu dibutuhkan kinerja dan prestasi yang luar biasa dari sebuah kepemimpinan. Sinergitas dan komunikasi diantara seluruh institusi pun perlu dibangun agar pemberantasan korupsi dapat berjalan dengan baik. Harus adanya komitmen yang kuat dalam mewujudkan Indonesia yang bebas korupsi.

Oleh: Risky Edy Nawawi